Road to Medalis

9 Jurus Terlarang ala Davi di OSN Biologi: Kok Masih Mau OSN Dengan Cara Biasa?

30 Desember 2025Davi · Biologi · Osn · Kedokteran
9 Jurus Terlarang ala Davi di OSN Biologi: Kok Masih Mau OSN Dengan Cara Biasa?

Nama

Davi

Kampus

Universitas Airlangga

Jurusan

Kedokteran

Medali Perak OSN Biologi 2024
Medali Perak OSN Biologi 2023
Medali Perak KSM Biologi MA 2023
Nama saya Al Davi Muhammad Azriel Firdaus, biasa dipanggil Davi. Ketertarikan saya terhadap dunia olimpiade bermula sangat dini, jauh sebelum saya memahami apa itu kompetisi akademik. Pada usia enam tahun, saya menonton sebuah film berjudul Mestakung (Semesta Mendukung) yang mengisahkan perjuangan seorang anak dari keluarga kurang mampu dalam Olimpiade Fisika Internasional. Film tersebut menunjukkan bagaimana sebuah ajang olimpiade mampu mengubah hidup seseorang secara menyeluruh. Sejak saat itu, saya memahami bahwa olimpiade bukan sekadar perlombaan, melainkan sarana untuk membuka peluang dan membentuk masa depan.
Didorong oleh rasa ingin tahu terhadap ilmu pasti dan ketertarikan pada cara alam bekerja, saya memilih jalur IPA sejak SD hingga SMP. Minat tersebut semakin menguat ketika saya berhasil meraih Medali Emas OSN IPA SMP 2021. Dari titik itulah muncul keinginan untuk menekuni bidang yang lebih spesifik. Ketertarikan pada dunia kesehatan dan mekanisme biologis mendorong saya untuk melanjutkan perjalanan di bidang Biologi, dengan cita-cita jangka panjang di ranah kedokteran dan biomedis.
Perjalanan saya di OSN Biologi tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang saya hadapi justru datang dari motivasi internal. Pada semester pertama SMA, saya belum berhasil meraih prestasi apa pun, yang sempat menimbulkan perasaan bahwa proses yang saya jalani sia-sia. Tekanan semakin besar ketika saya harus menyeimbangkan tuntutan akademik sekolah dengan pembinaan OSN. Untuk mencapai peringkat sekolah yang memadai, saya dituntut menguasai seluruh materi pelajaran, sementara di sisi lain saya tidak selalu dapat mengikuti kegiatan belajar di kelas secara penuh karena jadwal pembinaan.
Dalam proses belajar, saya mengembangkan pendekatan yang mungkin terbilang tidak umum. Saya hampir tidak pernah mencatat materi. Metode belajar saya berfokus pada membaca secara mendalam dan berulang, disertai latihan soal yang intensif. Saya mempelajari konsep dengan memahami alurnya, bukan sekadar menghafal fakta. Diskusi dengan mentor menjadi bagian penting dari proses ini. Mentor saya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pembina sekolah, teman-teman sesama peserta OSN, hingga medalis OSN dan IBO dari berbagai sekolah. Dari interaksi tersebut, saya memperoleh banyak sudut pandang baru sekaligus koreksi atas pemahaman yang keliru.
Sumber belajar utama saya meliputi Campbell Biology sebagai fondasi, kemudian dilanjutkan dengan buku-buku tingkat lanjut seperti Sherwood dan Guyton untuk fisiologi, Taiz dan Raven untuk fisiologi tumbuhan, Hartwell untuk genetika, serta Albert, Lodish, dan Harper untuk biokimia dan biologi molekuler. Seluruh bacaan tersebut saya lengkapi dengan mengerjakan soal-soal OSN tahun sebelumnya serta latihan soal dari buku referensi. Selain aspek akademik, saya juga berupaya menjaga kesiapan mental dengan tidur cukup, mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga, dan memberi ruang untuk relaksasi.
Puncak dari perjalanan saya di tingkat nasional datang pada OSN Biologi 2023 dan 2024, di mana saya berhasil meraih Medali Perak. Momen paling berkesan bagi saya adalah ketika nama saya dipanggil sebagai medalis dan saya maju ke depan untuk menerima penghargaan. Namun, makna terbesar dari pengalaman tersebut bukan terletak pada medali, melainkan pada proses panjang yang mengantarkannya.
OSN mengajarkan saya bahwa proses jauh lebih menentukan daripada hasil akhir. Kompetisi ini bukan sekadar menguji kecerdasan, tetapi menguji kemampuan bertahan di tengah rasa frustrasi dan ketidakpastian. Saya belajar bahwa pemahaman konsep jauh lebih penting daripada hafalan, dan bahwa disiplin tidak lahir dari motivasi sesaat, melainkan dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. OSN memaksa saya untuk mengakui keterbatasan diri, lalu membangun ulang cara berpikir secara lebih ilmiah.
Dampak OSN terasa kuat dalam perjalanan akademik saya selanjutnya. Saat memasuki dunia perkuliahan di Universitas Airlangga, saya menyadari bahwa banyak pendekatan berpikir—seperti membaca literatur ilmiah, menganalisis data, dan memahami mekanisme biologis—telah saya pelajari lebih dahulu melalui OSN. Pengalaman ini juga membantu saya mengenali ketertarikan saya pada lingkungan dengan tantangan intelektual tinggi, yang relevan dengan bidang biomedis, kedokteran, dan riset. OSN mengubah cara saya memandang ilmu, dari sekadar kumpulan fakta menjadi sebuah sistem yang saling terhubung dan dapat dieksplorasi secara kreatif.
Meskipun saya tidak melanjutkan hingga tahap kompetisi internasional, pengalaman mengikuti pelatnas menjadi salah satu fase paling berharga. Lingkungan yang kompetitif namun suportif mendorong saya untuk meningkatkan standar diri, bukan untuk mengalahkan orang lain, melainkan untuk membuktikan bahwa saya layak berada di lingkungan tersebut. Pelatnas dipenuhi diskusi panjang, kerja kolektif, dan proses belajar intens yang membentuk kedewasaan akademik dan mental saya.
Bagi adik-adik yang sedang berjuang di OSN, pesan saya adalah untuk tidak menjadikan OSN sebagai penentu tunggal masa depan. Jadikan OSN sebagai ruang untuk belajar berpikir seperti seorang ilmuwan—bertanya pada hal yang belum dipahami, berani mengakui ketidaktahuan, dan terus memperbaiki cara belajar. Belajarlah bukan untuk mengesankan orang lain, melainkan untuk membangun diri yang lebih tangguh, kritis, dan jujur secara intelektual.
Bagi saya, OSN bukan sekadar kompetisi, melainkan proses pembentukan cara berpikir. Proses inilah yang terus saya bawa, jauh melampaui ruang lomba, menuju dunia akademik dan kehidupan yang lebih luas.
Mulai Sekarang

Siap Berprestasi?

Bergabunglah dengan komunitas pembelajar berprestasi dan raih medali pertamamu!

© 2026 KelasOlim. All rights reserved.